rahmadinata
be a man be a master..
 
 

Link Lain

 

Komentator

  •  (1)
  •  (1)
  •  (1)
  • abdulmohamed (1)
  • abdulmohamed (1)
  •  

    Pengunjung

    171418
     

    Naskah Pembelajaran PPKn Kur 2013

    BAB I

    Pendahuluan

     

     

    1. A.        Latar Belakang

    Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah  usaha sadar  dan  terencana  untuk  mewujudkan  suasana  belajar  dan  proses pembelajaran  agar  peserta  didik  secara  aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual  keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta  keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Selanjutnya dalam rangka mencapai tujuan tersebut disusun standar nasional pendidikan,terdiri atas: standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar sarana prasarana, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.

    Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses menyebutkan bahwa setiap pendidik pada satuan pendidikan berkewajiban  menyusun  rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) secara lengkap  dan  sistematis  agar  pembelajaran  berlangsung  secara interaktif,  inspiratif,  menyenangkan,  menantang,  memotivasi peserta  didik  untuk  berpartisipasi  aktif,  serta  memberikan  ruang  yang cukup  bagi  prakarsa,  kreativitas,  dan  kemandirian  sesuai  dengan bakat,  minat,  dan  perkembangan  fisik  serta  psikologis  peserta didik. Oleh karena itu setiap satuan pendidikan perlu melakukan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran serta penilaian proses pembelajaran dengan strategi yang benar untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas ketercapaian kompetensi lulusan. 

    Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum Lampiran IV Pedoman Umum Pembelajaran, menyebutkan bahwa Strategi pembelajaran sangat diperlukan dalam menunjang terwujudnya seluruh kompetensi yang dimuat dalam Kurikulum 2013. Kurikulum memuat apa yang seharusnya diajarkan kepada peserta didik, sedangkan pembelajaran merupakan cara bagaimana apa yang diajarkan bisa dikuasai oleh peserta didik. Pelaksanaan pembelajaran didahului dengan penyiapan RPP yang dikembangkan oleh guru baik secara individual maupun kelompok denganmengacu pada Silabus.

     

    Strategi penilaian disiapkan untuk memfasilitasi guru dalam mengembangkan teknik, bentuk, dan instrumen serta pedoman penilaian hasil belajar dengan pendekatan autentik.Penilaian memungkinkan pendidik mampu menerapkan program remedial bagi peserta didik yang tergolong pembelajar lambat dan program pengayaan bagi peserta didik yang termasuk kategori pembelajar cepat.

    Pemerintah melalui surat edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nomor 156928/MPK.A/KR/2013 tanggal 8 November 2013 menyatakan bahwa mulai tahun pelajaran 2014/2015 seluruh SMA sejumlah 12.633 wajib melaksanakan Kurikulum 2013 di kelas X dan kelas XI. Untuk menyiapkan kemampuan guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran saintifik, serta melakukan penilaiain autentik, Pemerintah telah melatih guru inti dan guru sasaran, serta menyediakan silabus, buku guru, dan buku teks untuk peserta didik.

    1. B.        Tujuan

    Secara umum tujuan penulisan naskah ini adalah membantu guru mata  pelajaranPendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn)dalam mengimplementasikan kurikulum 2013. Secara khusus naskah ini bertujuan untuk:

    1. Memberikan rambu-rambu bagi guru dalam menganalisis kompetensi inti dan kompetensi dasar.
    2. Mengembangkan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)
    3. Mengembangkan materi pembelajaran berdasarkan materi pokok dari silabus.
    4. Mengembangkanlangkah-langkah kegiatan pembelajaran dengan pendekatan saintifik.
    5. Merancang penilaian autentik.
      1. C.        Ruang Lingkup

    Ruang lingkup buku ini terdiri atas:

    1. Penjelasan tentang Pembelajaran Saintifik dan Penilaian Autentik
    2. Langkah-langkah pembelajaran saintifik dalam mata pelajaran PPKn
    3. Penilaian Autentik dalam pembelajaran PPKn
    4. Penjelasan tentang Analisis Kompetensi
    5. Contoh Hasil analisis kompetensi
    6. Contoh RPP
      1. D.        Landasan Hukum
        1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
        2. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
          1. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 Tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan
          2. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 64 Tahun 2013 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah
          3. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah
          4. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan
          5. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah
          6. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 81A tentang Implementasi Kurikulum
          7. Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 156928/MPK.A/KR/2013 Tahun 2013 tanggal 8 November Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum
    1. Surat Edaran bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0258/MPK.A/KR/2014 Tahun 2014 dan Nomor 420/176/SJ tanggal 9 JanuariTahun 2014  tentang Implementasi Kurikulum

     


     

    Bab II

    Pembelajaran saintifik dan penilaian autentik

     

    1. A.       PrinsipPembelajaran 

    Karakteristik  pembelajaran terkait  erat  dengan Standar  Kompetensi  Lulusan  dan  Standar  Isi.  Standar Kompetensi Lulusan memberikan kerangka  konseptual  tentang  sasaran  pembelajaran  yang  harus dicapai,dan Standar Isi memberikan kerangka konseptual tentang kegiatan belajar dan pembelajaran yang dikembangkan dari tingkat kompetensi dan ruang lingkup materi.

    Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan, sasaran pembelajaran mencakup pengembangan domain sikap, pengetahuan, dan  keterampilan  yang  memiliki karakteristik berbeda untuk masing-masing mata pelajaran. Sikap diperoleh melalui aktivitas menerima, menjalankan,  menghargai,  menghayati,  dan  mengamalkan.  Pengetahuan diperoleh  melalui  aktivitas  mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.  Keterampilan  diperoleh melalui aktivitas  mengamati,  menanya,  mencoba,  menalar,  menyaji,  dan mencipta. Pencapain kompetensi tersebut berkaitan erat dengan proses pembelajaran yang dilaksanakan. Oleh sebab itu, guru harus merencanakan pembelajaran sesuai tuntutan kurikulum dengan menggunakan pendekatan saintifik dan model pembelajaran yang mendorong kemampuan peserta didik untuk melakukan penyingkapan/penelitian, serta dapat menghasilkan karya kontekstual, baik individual  maupun  kelompok. Pendidik disarankan untuk menggunakan model  pembelajaran,  antara lain model inkuiri, discovery, problem, dan projek.

    Prinsip pembelajaran  pada kurikulum 2013 menekankan perubahan paradigma: (1) peserta didik diberi tahu menjadi peserta didik mencari tahu; (2) guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar; (3) pendekatan  tekstual  menjadi pendekatan  proses  sebagai  penguatan penggunaan pendekatan ilmiah; (4) pembelajaran  berbasis  konten  menjadi  pembelajaran  berbasis kompetensi; (5) pembelajaran parsial menjadi pembelajaran terpadu; (6) pembelajaran  yang  menekankan  jawaban  tunggal  menjadi pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi; (7) pembelajaran verbalisme menjadi keterampilan aplikatif; (8) peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan  fisikal  (hardskills) dan keterampilan mental (softskills); (9) pembelajaran  yang  mengutamakan  pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat; (10) pembelajaran  yang  menerapkan  nilai-nilai  dengan  memberi keteladanan (ing  ngarso  sung  tulodo), membangun kemauan  (ing  madyo mangun  karso),  dan  mengembangkan  kreativitas  peserta  didik  dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani); (11) pembelajaranyang  berlangsung  di  rumah,  di  sekolah,  dan  di masyarakat; (12) pembelajaran  yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah peserta didik, dan di mana saja adalah kelas; (13) pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan (14) pengakuan  atas perbedaan  individual dan  latar  belakang budaya peserta didik.

     

    1. B.       Pendekatan Pembelajaran Saintifik dalamPendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 

    Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Sebagai pendidikan nilai, moral, dan norma prinsip pembelajaran kurikulum 2013 sangat sesuai dengan karakteristik PPKn.

    Pencapain tujuan mata pelajaran PPKn menghendaki bukan saja agar peserta didik mampu berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan, tetapi juga dalam proses pembelajaran peserta didik dituntut untuk dapat berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta anti-korupsi, berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya, berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut maka harus dilakasanakan pendekatan pembelajaran yang mengedepankan pendekatan proses.

    Pembelajaran sintifik merupakan pembelajaran yang mengadopsi langkah-langkah saintis dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah. Pembelajaran tersebut tidak hanya memandang hasil belajar sebagai muara akhir, tetapi proses pembelajaran dipandang sangat penting. Pendekatan ini menekankan pada proses pencarian pengetahuan, berkenaan dengan materi pembelajaran melalui berbagai kegiatan, yaitu mengamati, menanya, mengeksplor/mengumpulkan informasi/mencoba, mengasosiasi, dan mengomunikasikan.

    1. Kegiatan mengamati bertujuan agar pembelajaran berkaitan erat dengan konteks situasi nyata yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Proses mengamati fakta atau fenomena mencakup mencari informasi, melihat, mendengar, membaca, dan atau menyimak.

    Contoh:

    • · Membaca berbagai  kasus pelanggaran  HAM di Indonesia dari berbagai literatur dan media cetak
    • · Mengamati berbagai kasus pelanggaran  HAM yang terjadi dilingkungan masyarakat sekitar
    • · Mendengar, melihat, dan menyimak berbagai  kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia dari berbagai sumber.
    1. Kegiatan menanya dilakukan sebagai salah satu proses membangun pengetahuan peserta didik dalam bentuk konsep, prinsip, prosedur, hukum dan teori, hingga berpikir metakognitif. Tujuannnya agar peserta didik memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi (critical thingking skill) secara kritis, logis, dan sistematis. Proses menanya dapat dilakukan melalui kegiatan diksusi, kerja kelompok, dan diskusi kelas. Praktik diskusi kelompok memberi ruang kebebasan mengemukakan ide/gagasan dengan bahasa sendiri termasuk dengan menggunakan bahasa daerah.

    Contoh: menanyakan contoh kasus pelanggaran HAM yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

    1. Kegiatan mengeksplor/mengumpulkan informasi, bermanfaat untuk meningkatkan keingintahuan peserta didik dalam mengembangkan kreatifitas, dan keterampilan berkomunikasi. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui membaca sumber lain selain buku teks, mengamati aktivitas, kejadian atau objek tertentu, memperoleh informasi, mengolah data, dan menyajikan hasilnya dalam bentuk tulisan, lisan, atau gambar sesuai dengan karakteristik kompetensi dasar (KD). 

    Contoh:

    • · Menentukan sumber data akurat yang ada di lingkungannya berkaitan dengan kasus-kasus pelanggaran HAM
    • · Mengumpulkan data dari berbagai sumber termasuk media cetak dan elektronik tentang kasus pelanggaran HAM di Indonesia
    1. Kegiatan mengasosiasi bertujuan untuk membangun kemampuan berpikir dan bersikap ilmiah. Kegiatan dapat dirancang oleh guru melalui situasi yang direkayasa dalam kegiatan tertentu sehingga peserta didik melakukan aktivitas antara lain menganalisis data, mengelompokkan, membuat kategori, menyimpulkan, dan memprediksi/mengestimasi dengan memanfaatkan lembar kerja, diskusi atau praktik.

    Contoh:

    • · Mencari hubungan pelanggaran HAM dengan aspek sosial budaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia
    • · Menganalisis hasil temuannya berkaitan dengan kasus pelanggaran HAM di Indonesia

    Kegiatan mengomunikasikan adalah sarana untuk menyampaikan hasil konseptualisasi dalam bentuk lisan, tulisan, gambar/sketsa, diagram, grafik, atau perilaku.Kegiatan ini dilakukan agar peserta didik mampu mengomunikasikan pengetahuan, keterampilan, dan penerapannya, serta kreasi peserta didik melalui presentasi, membuat laporan, dan/ atau unjuk kerja.

    Contoh:

    • · Mempresentasikan berbagai kasus pelanggaran HAM di wilayahnya berdasarkan hasil temuannya di lapangan
    • · Menyampaikan hasil temuan  tentang kasus pelanggaran HAM dalam bentuk lisan, tulisan, gambar atau media lainnya

     

    1. C.       Model Pembelajaran dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 

    Model-model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran PPKn sehingga dapat membangkitkan kreativitas dan keingintahuan peserta didik, antara lain Discovery Based Learning, Project Based Learning, dan Problem Based Learning.

    1. Discovery Learning

    Discovery learning adalah teori belajar yang menempatkan peserta didik sebagai pembelajar aktif dalam membangun pengetahuan yang diharapkan.Langkah-langkah operasionalnya adalah sebagai berikut.

    1. Menciptakan stimulus

    Kegiatan penciptaan stimulus (rangsangan) dilakukan pada saat peserta didik melakukan aktivitas mengamati fakta atau fenomena dengan cara melihat, mendengar, membaca, atau menyimak. Fakta yang disediakan dimulai dari yang sederhana hingga kompleks atau fenomena yang menimbulkan kontroversi. Pada tahap ini, misalnya, peserta didik peserta didik diminta untuk mengamati fakta melalui tayangan video untuk menyaksikan seorang anak berusia 7 tahun yang disuruh ibunya untuk  mengamen di sebuah persimpangan jalan. Dan dijelaskan bahwa kondisi keluarga anak tersebut sangat miskin, dimana ayah dari anak tersebut adalah seorang yang tidak memiliki pengahasilan tetap..Dengan demikian, Tahapan ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan perhatian, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Di samping itu guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lain yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu peserta didik dalam mengeksplorasi bahan.

    Bruner memberikan contoh stimulasi dengan menggunakan teknik bertanya yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan peserta didik pada kondisi internal yang mendorong eksplorasi. Dengan demikian seorang Guru harus menguasai teknik-teknik dalam memberi stimulus agar tujuan mengaktifkan peserta didik untuk mengeksplorasi dapat tercapai.

    1. Menyiapkan pernyataan masalah

    Tahap kedua, guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang relevan dengan bahan pelajaran. Kemudian peserta didik memilih salah satu masalah dan dirumuskan dalam bentuk pernyataan singkat misalnya: Apakah perbuatan orang tua dengan menyuruh anaknya yang masih berusia 7 tahun merupakan pelanggaran HAM?.

    1. Mengumpulkan data/mencoba

    Tahap ketiga, ketika eksplorasi berlangsung, peserta didik mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya pernyataan masalah tersebut. Dalam hal ini informasi yang dikumpulkan berfungsi untuk  membuktikan  pernyataan masalah dalam contoh kasus pengamen. Pembuktian ini dapat dilakukan dengan cara mengumpulkan (collecting) berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, dan sebagainya. Dengan demikian, peserta didik secara aktif menemukan pengetahuan baru yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi.

    1. Mengolah Data

    Tahap keempat,  peserta didik melakukan pengolahan data dan informasi yang telah diperoleh baik melalui wawancara, observasi, dan metode lainnya, lalu ditafsirkan. Semua informasi yang telah dikumpulkan, semuanya diolah, diacak, dan diklasifikasikan.

    1. Memverifikasi data

    Pada tahap ini peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya jawaban atas pernyataan masalah. Verifikasi bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau informasi yang ada, pernyataan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau tidak.

    1. Menarik kesimpulan

    Tahap generalisasi atau menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi. Berdasarkan hasil verifikasi, dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan, peserta didik harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan materi pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu.

    Pemilihan model discovery learning memerlukan persyaratan pendukung untuk mereduksi kelemahan yang sering ditemukan, antara lain:

    1. secara klasikal, peserta didik memiliki pengetahuan awal yang lebih baik  pada keterampilan berbicara dan menulis. Bagi peserta didik yang kurang terampil, akan mengalami kesulitan dalam mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep, yang tertulis atau lisan sehingga pada gilirannya akan menimbulkan frustrasi;
    2. jumlah peserta didik tidak terlalu banyak, untuk memudahkan dalam membantu mereka menemukan teori atau pemecahan masalah lainnya;
    3. pemilihan materi dengan kompetensi dominan pada pemahaman;
    4. perlu fasilitas memadai seperti sumber, media, dan peralatan pembelajaran. 

    Manfaat pemilihan model discovery learning antara lain:

    1. membantu peserta didik untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif. Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses ini, seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya; 
    2. menguatkan pengertian, ingatan, dan transfer pengetahuan karena pemerolehannya bersifat pribadi;
    3. menimbulkan rasa senang pada peserta didik karena tumbuhnya rasa penyelidikan dan berhasil;
    4. memungkinkan peserta didik berkembang dengan cepat dan sesuai dengan dengan keecepatannya sendiri;
    5. menyebabkan peserta didik mengarahkan kegiatan belajarnya dengan melibatkan akal dan motivasinya;
    6. membantu peserta didik memperkuat konsep dirinya karena memperoleh kepercayaan diri bekerjasama dengan yang lainnya;
    7. membantu peserta didik menghilangkan keraguan karena mengarah pada kebenaran yang final yang dialami dalam keterlitbatan kegiatannya;
    8. mendorong peserta didik berpikir secara intuitif, inisiatif, dalam merumuskan hipotesis;
    9. dapat mengembangkan bakat, motivasi, dan keingintahuan;
    10. kemungkinan peserta didik belajar dengan memanfaatkan belajar dari berbagai jenis sumber belajar.

     

    1. Project Based Learning

    Pembelajaran berbasis proyek (PBL) merupakan metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata. Langkah-langkah operasionalnya  adalah sebagai berikut:

    1. Menentukan pertanyaan mendasar.

    Pada tahapan ini, guru memberikan pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas dengan cara mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Guru diharapkan dapat mengangkat topik yang relevan untuk para peserta didik sesuai dengan  tuntutan kompetensi. Penyiapan pertanyaan dapat dilakukan diawal semester agar dapat merancang kegiatan selanjutnya.

    1. Mendesain perencanaan proyek

    Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pendidik dan peserta didik. Dengan demikian, peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” proyek tersebut. Perencanaan terdiri dari aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, pengintegrasian berbagai subjek yang mungkin, dan alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.

    1. Menyusun Jadwal

    Pendidik dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain:

    1. membuat timeline untuk menyelesaikan proyek,
    2. membuat deadline penyelesaian proyek,
    3. membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru,
      1. membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan
      2. meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara.
      3. Memonitor kegiatan dan perkembangan proyek

    Pendidik bertanggungjawab untuk memonitor aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara memfasilitasi peserta didik pada setiap proses. Dengan kata lain, pemdidik berperan sebagai mentor pada saat peserta didik beraktivitas. Rubrik dapat digunakan untuk mempermudah proses monitoring dan merekam keseluruhan aktivitas peserta didik.

    1. Menguji hasil

    Penilaian dilakukan untuk membantu pendidik dalam mengukur ketercapaian kompetensi dasar, serta mengevaluasi kemajuan masing- masing peserta didik, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik dan membantu pendidik dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.

    1. Mengevaluasi kegiatan/pengalaman

    Pada akhir pembelajaran, guru dan peserta didik melakukan refleksi terhadapaktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukanbaik secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini, peserta didik dimintauntuk mengungkapkan perasaan dan pengalamannya selama menyelesaikanproyek.guru dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangkamemperbaiki kinerja selama proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya diperoleh suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap awal pembelajaran.

    Pemilihan model Project Based Learning memerlukan dukungan persyaratan untuk mereduksi kendala yang sering terjadi, antara lain:

    1. peserta didik terbiasa dengan aktivitas pemecahan masalah sehingga proyek tidak memakan waktu terlalu lama;
    2. dukungan sarana dan perasarana memadai termasuk perlatan belajar di laboratorium;
    3. pengaturan waktu dan jadwal kegiatan yang terkontrol;
      1. perlunya kejelasan tugas dan hasil yang diharapkan dari kegiatan proyek.

    Manfaat pemilihan model pembelajaran Project Based Learning, antara lain:

    1. meningkatkan motivasi peserta didik untuk belajar;.
    2. mendorong kemampuan peserta didik melakukan pekerjaan penting;
    3. mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah dan berpikir kritis;
    4. mengembangkan keterampilan komunikasi, kolaborasi, dan pengelolaan sumber daya;
    5. memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek dan membuat alokasi waktu serta sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas;
    6. melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan menunjukkan pengetahuan yang dimiliki dan kemudian mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
    7. membuat suasana belajar menyenangkan sehingga peserta didik maupun guru menikmati proses pembelajaran.

     

    1. Problem Based Learning (PBL) 
    1. Langkah pembelajaran yang mengkondisikan peserta didik pada masalah.

    Pembelajaran dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitas-aktivitasyang akan dilakukan. Dalam Problem Based Learning, tahapan ini sangat penting karena guru harus menjelaskan dengan rinci apa yang akan  dilakukan oleh peserta didik dan juga oleh pendidik serta menjelaskan bagaimana guru  akan mengevaluasi proses pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk memberikan motivasi agar peserta didik dapat mengerti pembelajaran yang akan dilakukan. Ada empat hal yang perlu dilakukan dalam proses ini, yaitu:

    1)      tujuan utama pembelajaran menyelidiki masalah-masalah penting dan bagaimana menjadi peserta didik yang mandiri,

    2)      permasalahan dan pertanyaan yang diselidiki tidak mempunyai jawaban mutlak “benar“, sebuah masalah yang rumit atau kompleks mempunyai banyak penyelesaian dan seringkali bertentangan,

    3)      selama tahap penyelidikan, peserta didik didorong untuk mengajukan pertanyaan dan mencari informasi. Pendidik akan bertindak sebagai pembimbing yang siap membantu, namun peserta didik harus berusaha untuk bekerja mandiri atau dengan temannya, dan

    4)      selama tahap analisis, peserta didik akan didorong untuk menyatakan ide-idenya secara terbuka dan penuh kebebasan. Semua peserta didik diberi peluang untuk berperan serta pada penyelidikan dan menyampaikan ide-ide mereka.

    1. Mengorganisasikan kegiatan pembelajaran.

    Disamping mengembangkan keterampilan memecahkan masalah, model Problem Based Learning juga mendorong peserta didik belajar berkolaborasi.Dalam memecahkan suatu masalah sangat membutuhkan kerjasama dan sharing antaranggota. Oleh sebab itu, pendidik dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok dan masing-masing kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda. Prinsip-prinsip pengelompokan peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dapat digunakan dalam konteks ini seperti: kelompok harus heterogen, pentingnya interaksi antaranggota, komunikasi yang efektif, adanya tutor sebaya, dan sebagainya.

    Peserta didik harus memonitor dan mengevaluasi kerja masing-masing kelompok untuk menjaga kinerja dan dinamika kelompok selama pembelajaran.Setelah peserta didik diorientasikan pada suatu masalah dan telah membentuk kelompok belajar, guru dan peserta didik menetapkan subtopik-subtopik yang spesifik, tugas-tugas penyelidikan, dan jadwal.Tantangan utama bagi guru pada tahap ini adalah mengupayakan agar semua peserta didik terlibat aktif dalam sejumlah kegiatan penyelidikan dan hasil-hasil penyelidikan ini dapat menghasilkan penyelesaian terhadap permasalahan tersebut, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, serta memamerkannya.

    Guru bertanggungjawab dalam melakukan pengawasan terhadap aktivitas peserta didik selama penyelesaian proyek. Pengawasan dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada setiap proses. Dengan kata lain, guru berperan sebagai mentor bagi aktivitas peserta didik. Untuk mempermudah proses monitoring, guru membuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang  penting.

    1. Membimbing penyelidikan mandiri dan kelompok

    Penyelidikan adalah inti dari Problem Based Learning.Setiap situasi permasalahan memerlukan teknik penyelidikan yang berbeda, namun pada umumnya melibatkan karakter yang identik, yakni pengumpulan data dan eksperimen, perumusan hipotesis dan penjelasan, dan pemecahan masalah.Pengumpulan data dan eksperimen merupakan aspek yang sangat penting.Pada tahap ini, guru harus mendorong peserta didik untuk mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen (mental maupun aktual) sampai mereka betul-betul memahami dimensi situasi permasalahan.Tujuannya adalah agar peserta didik mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan membangun ide mereka sendiri.

    Guru membantu peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber dan mengajukan pertanyaan tentang masalah dan ragam informasi yang dibutuhkan untuk pemecahan masalah. Setelah peserta didik mengumpulkan cukup data dan menentukan permasalahan tentang fenomena yang mereka selidiki, mereka mulai merumuskan hipotesis, penjelasan, dan pemecahan masalah.

    Esensi dari tahap ini adalah guru mendorong peserta didik untuk menyampaikan ide-idenya dan menerima ide mereka.Guru juga harus mengajukan pertanyaan yang membuat peserta didik berpikir tentang kelayakan hipotesis dan solusi yang mereka buat serta tentang kualitas informasi yang dikumpulkan.

    1. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

    Tahap penyelidikan diikuti dengan menciptakan artifak (hasil karya) dan pameran.Artifak bisa berbentuk laporan tertulis, video, tape (menunjukkan situasi masalah dan pemecahan yang diusulkan), model (perwujudan secara fisik dari situasi masalah dan pemecahannya), program komputer, dan sajian multimedia.Tentunya kecanggihan artifak sangat dipengaruhi oleh tingkat berpikir peserta didik.Langkah selanjutnya, peserta didik memamerkan hasil karyanya dan pendidik berperan sebagai organisator pameran. Akan lebih baik jika dalam pemeranan ini, melibatkan peserta didik-peserta didik lainnya, Guru lainnya, para orang tua, dan pihak lain yang dapat menjadi “penilai” atau pemberi umpan balik.

    1. Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah

    Fase ini merupakan tahap akhir dalam Problem Based Learning.Fase  ini dimaksudkan untuk membantu peserta didik menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah mereka sendiri dan keterampilan penyelidikan serta pola pikir yang mereka gunakan. Selama fase ini, guru meminta peserta didik untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan selama proses kegiatan belajarnya.

     

    1. D.     Langkah-Langkah Pemilihan Model Pembelajaran

    Pemilihan model-model pembelajaran di atas sebagai pelaksanaan pendekatan saintifik pembelajaran memerlukan analisis yang cermat sesuai dengan karakteristik kompetensi dan kegiatan pembelajaran dalam silabus.Pemilihan model pembelajaran mempertimbangkan hal-hal berikut.

    1.    Karakteristik pengetahuan yang dikembangkan menurut kategori pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural. Untuk pengetahuan faktual dan konsepetual, guru dapat memilih Discovery Learning, sedangkan untuk  pengetahuan prosedural Project Based Learning dan Problem Based Learning.

    2.    Karakteristik keterampilan yang tertuang pada rumusan kompetensi dasar dari KI- 4. Untuk keterampilan abstrak, guru dapat memilih Discovery Learning dan Problem Based Learning, sedangkan untuk keterampilan konkrit menggunakan Project Based Learning.

    3.    Karakteristik sikap yang dikembangkan, baik sikap religious (KI-1) maupun sikap sosial (KI-2).

    Berikut contoh matrik pemilihan model yang dapat digunakan sesuai dengan dimensi pengetahuan dan keterampilan.

    Tabel 1 Pemilihan model dimensi pengetahuan dan dimensi keterampilan

    Dimensi Pengetahuan

    Dimensi Keterampilan

     

    Abstrak

    Konkrit

    Faktual

    Discovery Learning

    Discovery Learning

    Konseptual

    Discovery Learning

    Discovery Learning

    Prosedural

    Discovery Learning

    Problem Based Learning

    Discovery Learning

    Problem Based Learning

    Metakognitif

    Discovery Learning Project

    Based Learning

    Problem Based Learning

    Discovery Learning Project Based Learning

    Problem Based Learning

     

    1. E.     Penilaian Autentikdalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 

    Penilaian autentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses, dan keluaran (output) pembelajaran, yang meliputi ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Penilaian autentik menilai kesiapan peserta didik, serta proses dan hasil belajar secara utuh. Keterpaduan penilaian ketiga komponen (input – proses – output) tersebut akan menggambarkan kapasitas, gaya, dan hasil belajar peserta didik, bahkan mampu menghasilkan dampak instruksional (instructional effect) dan dampak pengiring (nurturant effect) dari pembelajaran.

     

    Penilaian autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013.Penilaian autentik mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka mengamati/mengobservasi, menanya, mencoba, menalar, membangun jejaring atau mengomunikasikan.Penilaian autentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka yang meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

    Penilaian autentik disebut juga penilaian responsif, suatu metode untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik yang memiliki ciri-ciri khusus, mulai dari mereka yang mengalami kelainan tertentu, memiliki bakat dan minat khusus, hingga yang jenius. Penilaian autentik dapat diterapkan dalam berbagai bidang ilmu seperti seni atau ilmu pengetahuan pada umumnya, dengan orientasi utamanya pada proses dan hasil pembelajaran.

    Implementasi penilaian autentik didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut;

    1. Proses penilaian harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran, bukan bagian terpisah dari proses pembelajaran (apart of,not apart from instruction),
    2. Penilaianharus mencerminkan masalah dunia nyata (real world problems), bukan masalah dunia sekolah (schoolwork-kind of problems),
    3. Penilaian harus menggunakan berbagai ukuran, metoda dan criteriayang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar,
      1. Penilaian harus bersifat holisticyang mencakup semua aspek dari tujuan pembelajaran (sikap, keterampilan, dan pengetahuan).

    Hasil penilaian autentik dapat digunakan oleh pendidik untuk merencanakan program perbaikan (remedial), pengayaan (enrichment), atau pelayanan konseling. Selain itu, hasil penilaian autentik dapat digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki proses pembelajaran yang memenuhi Standar Penilaian Pendidikan.

    Penilaian autentik dalam pembelajaran Bahasa Perancis sebagai berikut;

    1. Penilaian Kompetensi Sikap

    Pengumpulan informasi terkait sikap peserta didik pada pembelajaran bahasa Prancis dilakukan dengan teknik observasi, penilaian diri, penilaian antar teman, dan jurnal, disesuaikan dengan karakteristik KD pada KI-1 dan KI-2. Penilaian sikap dilaksanakan pada saat kegiatan belajar berlangsung, dimulai dari proses mengamati, menanya, mengeksplor data, mengasosiasi, sampai mengkomunikasikan hasil pembelajarannya. Penilaian ini digunakan untuk mengukur pencapaian Kompetensi Inti 1 dan 2, dengan Kompetensi Dasar 1.1, 1.2, 2.1, 2.2, 2.3, 2.4, 2.5,  dan 2.6.

    Contoh Lembar Observasi/Pengamatan Sikap

    Mata Pelajaran                         : PPKn

    Waktu Pengamatan      : ...........................

    Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar: (lihat Lampiran Permendikbud Nomor 69 tahun 2013)

    Tabel 2. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar

    Kompetensi Inti

    Kompetensi Dasar

    KI-1

    Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

     

    1.1  Menghayati nilai-nilai ajaran agama dan kepercayaan dalam kehidupan bermasyarakat

    KI-2

    Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

    2.1 Menghayati nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara

     

    Sikap spiritual dan sosial yang dikembangkan di atas adalah melaksanakan salah satu ajaran agama (sholat bagi yang beragama Islam)  atau ke tempat ibadah sesuai agam yang dianutnya sebagai perwujudan rasa syukur, serta berperilaku santun dan peduli. Penilaian sikap dinyatakan secara kualitatif dengan kriteria Sangat Baik (SB), Baik (B), Cukup (C), dan Kurang (K).

    Dari contoh KD pada KI-1 dan KI-2 di atas dapat dibuat rubrik penilaian melaksanakan sholat dzuhur berjamaah disekolah (sikap spiritual) dan santun (sikap sosial) sebagai berikut:

    Sikap spiritual: melaksanakan sholat dzuhur berjamaah (bagi yang beragama Islam) disekolah sebagai perwujudan rasa syukur.

    Tabel 3. Contoh rubrik penilaian sikap

    Kriteria

    Indikator

    Sangat Baik (SB)

    Selalu melaksanakan sholat dzuhur berjamaah disekolah

    Baik (B)

    Sering melaksanakan sholat dzuhur berjamaah disekolah

    Cukup (C)

    Kadang-kadang melaksanakan sholat dzuhur berjamaah disekolah

    Kurang (K)

    Tidak pernah melaksanakan sholat dzuhur berjamaah disekolah

     

    1. Penilaian Kompetensi Pengetahuan

    Pengumpulan informasi terkait pencapaian pengetahuan peserta didik dilakukan melalui tes dengan teknik tes tertulis, tes lisan dan pemberian tugas. Pengetahuan PPKn terakumulasi pada Kompetensi Inti 3, dengan Kompetensi Dasar 3.1, 3,2, 3.3, dan seterusnya.

    a)      Tes tulis merupakan seperangkat pertanyaan atau tugas dalam bentuk tulisan yang direncanakan untuk mengukur atau memperoleh informasi tentang kemampuan peserta tes. Tes tulis menuntut adanya respon dari peserta tes yang dapat dijadikan sebagai representasi dari kemampuan yang dimilikinya. 

    Instrumen tes tulis dapat berupa soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan uraian.Instrumen uraian dilengkapi pedoman penskoran.

    b)      Tes lisan merupakan pemberian soal/pertanyaan yang menuntut peserta didik menjawab secara lisan. Instrumen tes lisan disiapkan oleh pendidik berupa daftar pertanyaan yang disampaikan secara langsung dalam bentuk tanya jawab dengan peserta didik.Kriteria instrumen tes lisan antara lain: (a) dapat digunakan jika sesuai dengan kompetensi pada taraf pengetahuan yang hendak dinilai; (b) Pertanyaan tidak boleh keluar dari bahan ajar yang ada; (c) Pertanyaan diharapkan dapat mendorong peserta didikdalam mengonstruksi jawabannya sendiri; (d) Disusun dari pertanyaan yang sederhana ke pertanyaan yang komplek.

    c)      Penugasan berupa tugas pekerjaan rumah dan/atau proyek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas.Kriteria instrumen penugasan

    • Tugas mengarah pada pencapaian indikator hasil belajar.
    • Tugas dapat dikerjakan oleh peserta didik.
    • Tugas dapat dikerjakan selama proses pembelajaran atau merupakan bagian dari pembelajaran mandiri.
    • Pemberian tugas disesuaikan dengan taraf perkembangan peserta didik.
    • Materi penugasan harus sesuai dengan cakupan kurikulum.
    • Penugasan ditujukan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik menunjukkan kompetensi individualnya meskipun tugas diberikan secara kelompok.
    • Untuk tugas kelompok, perlu dijelaskan rincian tugas setiap anggota kelompok.
    • harus mencantumkan rentang waktu pengerjaan tugas.

     

     

    1. Penilaian Kompetensi Keterampilan

    Pendidik menilai kompetensi keterampilan melalui penilaian kinerja, yaitu penilaian yang menuntut peserta didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan menggunakan tes praktik, proyek, dan penilaian portofolio.Instrumen yang digunakan berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubrik.

    Contoh penilaian keterampilan melalui tes praktik.

     

                            Tabel 4. Penilaian tes praktik

    KRITERIA

    SKOR

    INDIKATOR

    Mengidentifikasi dan mengungkapkan isu

    3

    Baik

    2

    Kurang baik

    1

    Tidak baik

     

    Mengumpulkan data

    3

    Sesuai

    2

    Kurang sesuai

    1

    Tidak sesuai

     

    Menganalisis

    3

    Sesuai

    2

    Kurang sesuai

    1

    Tidak sesuai

     

    Menyimpulkan

    3

    Tepat

    2

    Kurang tepat

    1

    Tidak tepat

     

    Kriteri
    3 (baik)                           : jika....

    2 (kurang baik                : jika..........

    1 (todak baik)                 : jika.............

    3 (sesuai)                                    : jika..........

    2 (kurang sesuai)            : jika................

    1 (tidak sesuai)               : jika.................

     

    Contoh penilaian keterampilan melalui proyek.

    Kelas/Semester   : X / 1

    Indikator :

    Peserta didik dapat melakukan penelitian mengenai kasus pelanggaran HAM yang terjadi pada masyarakat di lingkungan sekitarnya.

    Rumusan tugas:

                Lakukan penelitian mengenai kasus pelanggaran HAM yang terjadi di lingkungan masyarakat sekitar tempat tinggalmu, dan bagaimana upaya-upaya penanganannya. Tuliskan rencana penelitianmu, lakukan, dan buatlah laporannya. Dalam membuat laporan perhatikan latar belakang, perumusan masalah, kebenaran informasi/data, kelengkapan data, sistematika laporan, penggunaan bahasa, dan tampilan laporan!

     

    Tabel 5. Contoh Pedoman penskoran

    No

    Aspek yang dinilai

    Skor maks

    1

    Perencanaan

    Latar Belakang (tepat = 3; kurang tepat = 2, tidak tepat = 1)

    Rumusan masalah (tepat = 3; kurang tepat = 2, tidak tepat = 1)

    Catatan:

    3        (tepat) jika:...

    1. (kurang tepat) jika.......
    2. (tidak tepat) jika................

    6

     

     2

    Pelaksanaan

    a.Pengumpulan data/informasi (akurat = 3; kurang akurat = 2; tidak akurat = 1)

    b.  Kelengkapan data (lengkap= 3; kurang lengkap = 2; tidak lengkap = 1)

    c. Pengolahan/analisis data (sesuai = 3; kurang sesuai = 2; tidak sesuai  = 1)

    d.Kesimpulan (tepat = 3; kurang tepat = 2; tidak tepat = 1)

    Catatan:

    3   (akurat) jika:...

    2   (kurang akurat) jika.......

    1 (tidak akurat) jika................

    12

    3

    Pelaporan hasil

    1. Sistematika laporan (baik = 3; kurang baik = 2; tidak baik = 1)
    2. Penggunaan bahasa (sesuai kaidah= 3; kurang sesuai  kaidah = 2; tidak sesuai kaidah = 1)
    3. Penulisan/ejaan (tepat = 3; kurang tepat = 2; tidak tepat/banyak kesalahan =1)
    4. Tampilan (menarik= 3; kurang menarik= 2; tidak menarik= 1)

     

    12

    Skor maksimal

    30

    Nilai proyek = (skor perolehan : skor maksimal) x 4.

     

     

     

    Tabel 6. Contoh Rubrik penilaianportofolio laporan hasil observasi

    KRITERIA

    SKOR

    INDIKATOR

    Persiapan

    (Skor maks = 2)

    2

    Pemilihan sumber data tepat

    1

    Pemilihan sumberdatakurang tepat

     

    Pelaksanaan

    (Skor maks = 6)

    1. Teknik Pengumpulan data

     

    1. Instrumen data

     

     

    3

    Langkah kerja dan waktu pelaksanaan tepat

    2

    Langkah kerja atau waktu pelaksanaan tepat

    1

    Langkah kerja dan waktu pelaksanaan tidak tepat

     

     

    3

    Instrumen data ada dan lengkap

    2

    Instrumen data ada tetapi tidak lengkap

    1

    Instrumen data tidak ada

     

    Hasil

    (Skor maks = 6)

    1. Pengolahan data

     

    1. Simpulan

    3

    Pengolahan data tepat

    2

    Pengolahan data kurang tepat

    1

    Pengolahan data tidak tepat

     

     

    3

    Simpulan tepat

    2

    Simpulan kurang tepat

    1

    Simpulan tidak tepat

     

     

     

    Laporan

    (Skor maks = 3)

    3

    Tampilan menarik dan bahasa sesuai kaidah

    2

    Tampilan menarik atau bahasa sesuai kaidah

    1

    Tampilan tidak menarik dan bahasa tidak sesuai kaidah

     

    Tabel 7. Contoh pengisian format penilaian portofolio

    No

    Nama

    Skor untuk

    Juml skor

    Nilai

    Persiapan

    Pelaksanaan

    Hasil

    Laporan

     

    1

     

    Adi

     

    2

     

    5

     

    5

     

    2

     

    14

     

    3.29

     

    Keterangan:

    • Skor maksimal = jumlah skor tertinggisetiap kriteria.

    Pada contoh di atas, skor maksimal  = 2 + 6 + 6+ 3 = 17.

    • Nilai portofolio = (Jumlah skor perolehan : skor maksimal) x 4.

    Pada contoh di atas nilai portofolio = (14 : 17) x 4 = 3.29. 

     


     

     

    Bab III  

    Analisis Kompetensi

     

    1. Kompetensi

    Kurikulum berbasis kompetensi menekankan pada pencapaian kompetensi yang dirumuskan dalam standar kompetensi lulusan, komptensi inti dan kompetensi dasar.Oleh karena itu fokus pertama dan utama bagi guru dalam menyiapkan pembelajaran adalah melakukan analisis pada ketiga kompetensi itu. Dari analisis itulah akan diperoleh penjabaran materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan penilaian yang diperlukan.

    Standar kompetensi lulusan adalah muara utama pencapaian yang dituju semua mata pelajaran pada jenjang tertentu.Sedangkan kompetensi inti adalah pijakan pertama pencapaian yang dituju semua mata pelajaran pada tingkat kompetensi tertentu.Penjabaran kompetensi inti untuk tiap mata pelajaran tersaji dalam rumusan kompetensi dasar.

    Rumusan standar kompetensi lulusan seperti yang tercantum pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 tahun 2013 untuk tingkat SMA adalah sebagai berikut.

    Tabel 8. Kompetensi Inti kelas X

    Dimensi

    Kualifikasi Kemampuan

    Sikap

    Memiliki  perilaku  yang  mencerminkan  sikap   orang beriman,  berakhlak  mulia,  berilmu,  percaya  diri,  dan bertanggung  jawab  dalam  berinteraksi  secara  efektif dengan  lingkungan  sosial  dan  alam  serta  dalam menempatkan  diri  sebagai  cerminan  bangsa  dalam pergaulan dunia

    Pengetahuan

    Memiliki  pengetahuan  faktual,  konseptual,  prosedural,dan  metakognitif  dalam  ilmu  pengetahuan,  teknologi,seni,  dan  budaya  dengan  wawasan  kemanusiaan, kebangsaan,  kenegaraan,  dan  peradaban  terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian.

    Keterampilan

    Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif  dalam  ranah  abstrak  dan  konkret  sebagai pengembangan  dari  yang  dipelajari  di  sekolah  secara mandiri.

     

    Kompetensi inti tingkat SMA terdiri atas dua tingkatan, yaitu tingkat kompetensi ke lima yang mencakup kelas X dan kelas XI, dan tingkat kompetensi ke enam untuk kelas XII. Rumusan kompetensi yang relevan bagi kelas X sesua Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 64 Tahun 2013 tentang Standar Isi adalah sebagai berikut;

    Tabel 9.Kompetensi  Inti Kelsa XI dan XII

    Kompetensi

    Deskripsi Kompetensi

    Sikap Spiritual

    1. Menghayati  dan  mengamalkan  ajaran  agama  yang dianutnya

    Sikap Sosial

    2. Menghayati  dan  mengamalkan  perilaku  jujur,  disiplin, tanggung  jawab,  peduli  (gotong  royong,  kerjasama,  toleran, damai),  santun,  responsif  dan  pro-aktif  dan  menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam  berinteraksi  secara  efektif  dengan  lingkungan  sosial dan  alam  serta  dalam  menempatkan  diri  sebagai  cerminan bangsa dalam pergaulan dunia

    Pengetahuan

    3.  Memahami,  menerapkan,  dan  menganalisis  pengetahuan faktual,  konseptual,  prosedural,  dan  metakognitif berdasarkan  rasa  ingin  tahunya  tentang  ilmu  pengetahuan, teknologi,  seni,  budaya,  dan  humaniora  dengan  wawasan kemanusiaan,  kebangsaan,  kenegaraan,  dan  peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan  prosedural  pada  bidang  kajian  yang  spesifik sesuai  dengan  bakat  dan  minatnya  untuk  memecahkan masalah

    Keterampilan

    4. Mengolah,  menalar,  dan  menyaji  dalam  ranah  konkret  dan ranah  abstrak  terkait  dengan  pengembangan  dari  yang dipelajarinya  di  sekolah  secara  mandiri,  bertindak  secara efektif  dan  kreatif,  serta  mampu  menggunakan  metoda sesuai dengan kaidah keilmuan

     

     

    1. Mengkaji keterkaitan KI dan KD dalam silabus maupun buku (buku guru dan buku siswa);

    Mengkaji keterkaitan KI dan KD dalam silabus maupun buku secara umum dapat digambarkn dengan bagan 1 sebagai berikut;

     

    Gambar 1. Kajian Silabus

    Komentar :

    Nama :
    E-mail :
    Web :
    Komentar :
    Masukkan kode pada gambar

        [Emoticon]
     

    Pengumuman PPMB

     

    Artikel Popular

    • Hak Asasi Manusia (Hand Out 2)
      CIVIC EDUCATIONS - 01-12-2012 09:48:46  (14)
    • Hak Asasi Manusia (Hand Out 1)
      CIVIC EDUCATIONS - 01-12-2012 09:11:16  (7)
    • PERMENAG 2 / 2008
      Regulasi Pendidikan Kita - 30-10-2012 09:53:29  (7)
    • Apa itu Globalisasi??
      CIVIC EDUCATIONS - 16-10-2012 09:56:31  (4)
    • SISTEM POLITIK INDONESIA
      CIVIC EDUCATIONS - 05-06-2014 08:39:46  (3)
     
     
     

    time

     

    animasi